AYAH
Teruntuk cinta pertamaku, terima kasih malam ini, AYAH.
-------
Situasi rumah yang tak baik, membuatku tak ingin buru-buru pulang. Aku ingin tenggelam dengan kesibukan apapun, yang bisa mengulur waktu ku untuk tiba di rumah. Rupanya hari ini aku tiba sebelum maghrib, sekitar pukul 17.15 WIB. Seperti biasa, saat sedang tak baik-baik saja. Semua sudah berada di kamar masing-masing. Sepi. Aku bergegas masuk ke kamar, meletakkan gendonganku (tas ransel kesayangan, satu-satunya), lekas berganti pakaian. Ku nyalakan kembali laptop, memasang earphone, dan segera menuntaskan tugas dalam list harianku. Tak terasa air mataku menetes, selalu begini, hatiku nelangsa, kebingungan mencari tempatnya pulang. Tiba-tiba saja ...
"Mbak, ayo tumbas pecel," sapa ayah di balik pintu.
Bergegas ku usap ujung mataku dengan tisu, aku menolaknya halus.
Mataku bertatapan sekilas dengan mata ayah.
Allah, ayah pasti tahu aku baru saja menangis (batinku).
Jamaah maghrib baru saja selesai, aku tahu, karena rumah orang tuaku hanya 4 (empat) rumah berselang dari masjid. Ku dengar ayah memancal starter motornya, pergi.
"Mbak, dimaem," kata ayah sembari menyerahkan sebungkus nasi.
Tidak bisa lagi berkata-kata, mataku masih sembab. "Suwun ayah," jawabku singkat. Ku terima sekantong kresek berwarna putih. Segera ku buka, demi menyenangkan hati ayah. Sengaja ku sisihkan telur dadar sebagai tambahan lauk untuk ayah. Ku makan nasi yang masih hangat itu dengan olahan mi dan sepotong tahu. Ayah, terima kasih banyak. Sehatlah selalu ayah hebatku :')
Comments
Post a Comment